Seminggu terakhir ini, republik ini dihebohkan oleh munculnya beberapa video yang memuat gambar adegan hubungan intim, yang "pemeran"nya diyakini oleh sebagian besar orang sebagai tokoh-tokoh yang terkenal dijagad hiburan tanah air. Ada yang mengutuk mereka, ada yang menaruh simpati kepada mereka, ada pula yang berlagak tidak peduli karena merasa ikut menikmati munculnya video sex tersebut.
Pernah ada seorang teman berkata : "sex itu adalah hal yang umum, manusia makhluk yang bisa menikmati sex, dan manusia bebas menikmati hal itu. Terserah mau divideokankah, atau diabadikan dalam bentuk lainnya, mau disembunyikan atau mau disebarkan, semuanya tergantung keputusan si pelaku", " Indonesia terlalu kuno untuk hal itu. Indonesia tidak benar dalam hal ini, suka mencampuri urusan orang lain, dan terlalu banyak orang munafik", ungkap temanku ini. Kemudian dia melanjutkan : "lihat, kalangan artis di Amerika, jika ada video sex yang beredar, mereka sah-sah saja, kemudian hanya mencari sumber yang menyebarkan, lalu mereka minta royalti yang menjadi hak mereka."
Tapi apa pendapat teman saya itu sepenuhnya benar? Menurut saya tidak, saya bahkan tidak setuju. Tapi tentunya saya tidak akan memberikan pembenaran akan penolakan saya ini dengan menjawab : "Oh ini Indonesia, kita punya adat dan budaya yang berbeda dengan di Amerika." Sekali-kali saya tidak akan menjawab demikian karena ini bukan jawaban.
Tentu pendapat saya mengenai hal ini, dipengaruhi oleh iman saya kepada Tuhan dan ajaran agama. Tetapi saya rasa tidak kurang berbobot jika saya mengutarakannya. Bagi saya "sex"sama sekali bukanlah hal yang buruk, "sex", atau hubungan intim itu baik adanya, indah adanya, tapi bukanlah segalanya. Sex memberikan kenikmatan untuk dinikmati, kemudian membuahkan kebahagian bagi manusia karena melalui sex manusia dilahirkan. Pada dasarnya adalah baik adanya. Tetapi apabila manusia sudah menganggap sex sebagai suatu kebutuhan utama, sebagai suatu aktualisasi diri yang melebihi segalanya, dan sex sebagai alat kesenangan utama tanpa batasan sex menjadi kehilangan fungsi aslinya dan demikian pula dengan pelakunya. Orang yang demikian menjadi orang rusak.
Jika sex dianggap menjadi kebutuhan, dan tidak boleh tidak dilaksanakan, karena tidak mampu mengendalikan diri, manusia telah menjadi seperti binatang, tidak punya akal budi, hanya tahu makan dan berhubungan sex saja.
Jika sex dianggap sebagai alat untuk kesenangan diri yang tanpa batasannya, sehingga bebas melakukan hubungan sex dengan siapapun yang disukainya, dengan cara apapun ( merekam kegiatan sex yang dilakukan karena alasan kebanggaan diri ) serta pada saat apapun, maka manusia menjadi budak sex. Sex menjadi lebih berkuasa daripada manusia itu sendiri, karena hidupnya telah dia serahkan kepada kecintaan akan dirinya, padahal tidak akan ada sumbangsih dan faedah apapun untuk kemanusiaan. Kelamaan orang seperti ini hanya menjadi orang egois yang hanya akan menjadi sampah bagi kemanusiaan.
Jika sex dianggap sebagai suatu yang buruk dan tabu untuk dilakukan ( tentu dengan batasan dan aturan agama dan moral ), diperbincangkan dan bahkan dipikirkan, maka orang tersebut menjadi munafik dan menyangkali sifat alami dalam dirinya. Dirinya menjadi pembohong.
Manusia adalah makhluk berhati nurani, dan berakalbudi. Akalbudi digunakan untuk berpikir, merenungkan tentang hal-hal yang logis, akalbudi digunakan untuk berstrategi, akalbudi digunakan untuk bersikap. Kemudian hati nurani digunakan untuk bersyukur, hati nurani digunakan untuk memberi penilaian, dan yang paling penting hati nurani digunakan untuk memberi respons akan panggilan Tuhan yang berseru-seru dalam hatinya. Oleh sebab itu manusia dapat mengerti ilmu pengetahuan, manusia bisa bermain musik mengungkapkan isi hati, manusia bisa memiliki keinginan beragama, manusia ingin sukses dan manusia bisa mencintai dan memperjuangkan apa yang dicintai.
Sepanjang sejarah dalam peradaban manusia menunjukkan, manusia yang bernilai adalah manusia yang berakal budi dan ber-hati nurani. Bukan manusia yang hanya menjalankan potensi dasar seperti bertahan hidup dengan makan, dan menghasilkan keturunan dengan melakukan sex, atau melaksanakan kesenangan dengan melakukan sex.
Sejarah justru membuktikan bahwa orang-orang yang hanya mementingkan sex saja dalam kehidupannya adalah orang-orang yang rendah kualitasnya, walaupun dia seorang raja seperti kaisar Calicula dari Romawi adakah dia diagungkan karena sex, tidak! dia justru adalah contoh manusia terburuk.
Yang membuat manusia bisa mengenang manusia lainnya sebagai orang besar adalah justru produk dari akalbudi dan hati nurani. Tidak ada hadiah nobel untuk seorang gila sex, tetapi ada hadiah nobel untuk seorang yang rela berkorban untuk orang lain.
Tidak ada penghargaan bergengsi seperti Oscar untuk film yang hanya menonjolkan aspek sexualitas saja, tetapi tersedia banyak penghargaan untuk film dengan pesan moral dan kebajikan yang berfaedah bagi kemanusiaan.
Jadi menurut pendapat saya, video sex yang menghebohkan itu, bukanlah hal yang baik dan pantas. Tetapi semoga ada kegunaannya juga bagi si "pemeran", malu karena dihakimi oleh hatinya sendiri. Kemudian bagi pendukung penyebaran video ini, jelas saya tidak pernah menganggap anda benar. Kemudian penghakim yang bukan hakim, saya juga tidak pernah menganggap anda benar jika motivasi anda adalah untuk memenuhi nafsu jahat dalam diri anda, yang sama sekali tidak berfaedah bagi kemanusiaan, anda sama seperti mereka, hanya saja yang anda lakukan dan pikirkan adalah aspek lain dari bentuk egoisme dan cinta diri yang tidak bermoral dan memperbudak diri anda.
Memikirkan dan merenungkan terlebih dahulu adalah lebih bijak daripada menghakimi atau berpendapat dengan terburu-buru.
Pikirkanlah apakah ada kebenaran dalam pertimbangan anda.
Selidiki dahulu motivasi anda, sekedar berpendapat, memuaskan diri dan golongan anda, atau demi kebenaran dan keselamatan dunia dan isinya?
Adakah faedahnya bagi dunia, orang lain kemudian diri anda sendiri.
Kemudian cetuskanlah buah pikiran, pendapat dan penilaian anda dengan tulus dan berani
Rabu, 09 Juni 2010
Langganan:
Entri (Atom)